Today was a fairytale

Kamis, 22 Maret 2012

Rabu, 21-Maret-2012


Rabu, 21-Maret-2012
Dear bloggy, i felt so shocked when i out from my home then i see B stood up in front of fence of my home, still with his uniform, his bag, and his shoes, really i felt so shock, at  that time there was bobi as witness between i and B .
Langsung aja ya ke intinya, tadi Bobi dateng kerumah saya, saya tanyain, kenapa? Ada apa? Bobi cuma diem sambil pencet-pencet hape, tiba-tiba dateng seseorang yang sangat saya paham betul parasnya, cara berjalannya, tas nya, helm nya, dan memarkirkan motor yang sudah tidak asing dimata saya didepan pagar rumah. Saya shock, jelas lah saya shock, itu yang datang adalah sumber luka saya beberapa waktu lalu, bagaimana mungkin saya tidak tercengang melihatnya tiba-tiba berdiri didepan saya? Anak kecil aja kena pisau tangannya besoknya kalo ketemu pisau shock gitu, nah saya juga begitu sama yg satu ini. Dia adalah B ya saya yakin kalian juga tau siapa dia. Sumpah saya tidak tau kalau sebelumnya maksud bobi memaksa saya pulang bersamanya saat disekolah tadi adalah usaha bobi buat mengabulkan permintaan tolong teman nya yang satu ini untuk bertemu saya. Tapi dikarenakan saya tadi tidak pulang sama bobi jadi saya disusul dirumah.
Baiklah, si B datang dengan seragam sekolah yg masih lengkap, sepatu, dan tas yang masih ia sandang, sepertinya dia belum pulang ke rumah tadi :/ saya hanya bisa diam, berusaha se-cool mungkin untuk tidak menampakkan keterkejutan saya didepannya, berusaha sebisa mungkin meredam emosi saya, berusaha seramah mungkin saat itu.
Dia naik ke teras, dan saya berusaha baik, menawarkannya agar duduk dikursi yang kosong disitu saat itu, bobi perlahan bergerak menjauh, namum masih ditempat itu, B duduk dibawah kaki saya, sedangkan saya duduk dikursi, perlahan namun pasti dia mulai membuka mulutnya dan mengeluarkan kata-kata hingga membentuk kalimat. Saya rasa kurang baik juga saya menjelaskan kalimat yang diucapkannya untuk saya secara detil, tapi intinya dia meminta maaf atas segala yang terjadi belakangan ini, saya hanya senyum saja menanggapinya, dan sekali lagi, dia lebih tegas mengatakan kalau dia memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada saya dan saya mulai membalas kalimatnya, mengatakan bahwa apa maafnya berguna? Bukannya semuanya sudah selesai? Bahkan saya sudah hampir lupa kapan terakhir kali kita bertegursapa, dan yang paling penting bukan kah saya sudah terlanjur luka? Dan ini sudah nyaris sembuh, lalu kenapa kau datang lagi? Dengan nada yang terbata-bata mengucapkan dan memohon maaf padaku? Seingatku itu bukan kali pertama B mendatangiku dan meminta maaf, ini yang ke? Keeeee? Keeeeeesekian kali haha dan biasanya setelah maaf diterima siklusnya kami berbaikan-berteman lagi-dekat lagi-saling berbahagia-datang masalah lagi-diribut-ributin lagi-berdebat-dijelekjelekkan-menjauh-danmemilih meninggalkan dan ditinggalkan yaaa begitu saja berputar-putar, lalu? Apa maafnya yang kali ini selanjutnya akan berlanjut seperti kisah biasa kita yang lalu lalu? Kalau kau berani menjawab iya, maka dengan tegas aku mengatakan tidak J
Jika kau mau tau, sesungguhnya maafmu itu sudah sangat terkikis sekali kebaikannya, nyaris tidak berguna. Maaf  jika aku lancang dan kurang ajar, tapi ya itu lah kenyataannya, dan aku yakin kau pun berpendapat sama denganku, sejauh ini maafmu hanya berfungsi agar segala dosa dan bayang-bayang yang menghantuimu perlahan pergi, seperti itu bukan? Baiklaaah aku menghargai niat baikmu yang memberanikan diri datang dan bicara padaku, tapi pada nyatanya semua yang kau ucapkan tadi sama sekali tiada bisa merubah keadaan kita, keadaan ini .
Maaf jika tadi saat bicara empat mata aku terlalu meledak-ledak, terlalu membentak, sebenarnya aku sudah sekuat mungkin bicara pada diriku untuk tetap bersikap tenang, tapi ternyata percikan emosinya memaksa keluar saat kita membahasnya tadi.
Dalam kesempatan ini, saya mau mengungkapkan segalanya, segala rasa, efek, dan yaa segalanya setelah kejadian ini, sebenarnya saya mau mengungkapkannya secara langsung tadi, saat kita duduk berdua, empat mata yang memang bebas dan lepas sekali saling mengungkapkan, tapi saya seperti tertahan untuk bicara lebih jauh lagi, saya juga takut tidak sanggup menahan tangis jika saya mengungkapkan semuanya, saya tidak mau kau melihat saya mengeluarkan airmata karna hal sepele ini, karna hal tidak penting ini, saya juga takut saya lepas kendali dan terlalu beremosi juka saya ungkapkan lebih jauh tadi, makanya saya hanya mengatakan sedikit nasehat yang saya rasa sangat berguna untuk masadepan kau, untuk kebaikan kau.
Seperti yang aku katakan tadi bahwa aku harap kau berubah, dan memastikan padaku bahwa cukup aku yang jadi korban keegoisan kalian, cukup aku saja. Cukup aku yang menderita atas kisah menjijikan ini, cukup aku yang menangis, menahan sakit, dan berdiri sendiri atas jatuhnya aku karna jolakan kalian. Cukup aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar