Ini tentang karma.
Mungkin bagi sebagian orang karma bukanlah hal yang terlalu bermasalah. Dan bagi sebagian orang lain, karma adalah masalah besar. Untukku pribadi, karma adalah bayaran dari apa yang kita beli. Tak berwujud. Namun nyata.
Jujur saya takut dengan karma. Saya takut saya tak mampu menerima bahkan melaluinya. Sungguh. Saya tak berani. Tapi saya sering mendengar bahwa apa yang terjadi pada kita adalah persetujuan kita dengan Tuhan. Dan Tuhan tidak akan memberikan cobaan. Ujian (Dan saya rasa juga karma) diluar batas kemampuan umatnya. Benar? Kalian pernah mendengar itu juga kan? Nah disini saya ingin memberi satu contoh untuk kalian yang membaca postingan ini. Selanjutnya saya harap kalian mau mencoba menjawab.
Seandainya dalam hidup kalian ada seseorang (lawan jenis) yang sangat dan teramat menyayangi kalian. Mencintai kalian. Memiliki ketulusan tinggi. Baik. Baik sekali. Selalu ada untuk kalian. Yaa untuk karakter pacar yang baik aku rasa orang ini juaranya. Tapi masalahnya kalian tidak menyukainya. Kalian hanya menganggapnya sebagai teman biasa. Kalian tidak memiliki rasa apapun. Bahkan kalian terkadang ilfeel sekali padanya. Kesal. Dan terkadang dongkol dengan kelakuannya yang berlebihan itu. Tapi orang disekitar kalian menginginkan hal yang sama seperti seseorang itu. Yaitu agar kalian bersatu. Menjalin sebuah hubungan. Dan selalu mengingatkan kalian tentang karma. Lalu disini pertanyaan nya adalah : apa yang akan kalian lakukan? Baik. Saya akan memberi beberapa opsi untuk memudahkan anda menjawabnya.
1. Memilih berpacaran tanpa rasa hanya karena ingin mengenakkan hatinya?
2. Memilih berpacaran tanpa rasa hanya karena suruhan teman kalian?
3. Memilih berpacaran tanpa rasa hanya karena takut karma?
4. Memilih berpacaran sedangkan hati sendiri dongkol dan sama sekali tidak menginginkan hal ini?
5. Atau memilih untuk tidak berpacaran, tapi tetap menjalin hubungan baik?
Bagaimana? Opsi saya lumayan kan? Yaa saya rasa yang harus anda lakukan sekarang adalah : berfikir-memilih opsi-dan berikan alasan dikotak komentar dibawah J bisa kan?
Kalau pertanyaan ini dibalikkan kepada saya, saya sih pilih opsi yang terakhir. Terserah orang mau bilang saya tega, kejam, atau apalah, saya juga tidak akan perduli. Kenapa? Karena jika kalian diposisi ini juga kalian akan bertindak seperti saya. Jika kalian rasa apa yang saya rasakan kalian juga akan memilih apa yang saya pilih untuk tidak menjalin hubungan yang secara kasar bahasanya “tanpa rasa”. Lebih baik berteman kan? Toh kita tetep bisa ngobrol. Jalan. Dan sebagainya. Lalu? Jika seperti ini sangat bahagia, kenapa memaksa mengambil jalan yang tidak enak untuk pihak kita berdua? Pacaran tanpa rasa itu lebih kejam dari menolak dan memilih sebagai teman saja. bukan begitu? Entahlah. Setiap orang memang punya pemikiran yang berbeda. Tapi ini saya. Inila saya. Iya. Saya memang keras. Tapi saya beralasan. Saya hanya ingin membayar ketulusan dengan ketulusan juga. Saya tidak bisa berpura-pura mencintai atau berlaku seperti yang dia lakukan terhadap saya karna memang pada dasarnya saya tidak punya special feeling seperti yang dia rasakan itu. Maaf.
Jika kalian berkata “apa salahnya mencoba?” atau “bukankah cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu?” itu benar. Kedua statement itu sangat benar. Tapi teori itu entah mengata feel like “nothing” in me. Saya sudah pernah mencoba, mencoba untuk mengikuti maunya dia. Oke. Kita pacaran. Hari demi hari berlalu dan hasilnya? Sedikitpun tak tercipta rasa. Yang ada hanya rasa kesal. Dongkol. Dan ilfeel yang mendewa. Hari demi hari yang kami jalani berisi penuh dengan pertengkaran. Tidak enak bukan? Menyakitkan saja bukan? Makanya saya saat itu memutuskan untuk udahan. Dan pada faktanya rasanya berteman lebih baik. Keadaannya lebih terkendali. Lebih normal. Tidak ada pertengkaran. Lalu? Saya harus bagaimana? Saya ini normal. Saya pastikan saya normal. Saya tau bahwa dia sangat tersakiti dengan tindakan saya selama ini yang biasa saja menanggapi cintanya yang begitu besar itu. Dan saya sangat berterima kasih. Sangat berterima kasih atas segalanya. Saya ingin sekali membalas semuanya. Berlaku seperti kau memperlakukan saya. Tapi saya belum bisa. Saya juga selalu meminta teman teman saya untuk membantu saya. Dan saya masih belum bisa. Ini bukan 100% salah saya kan? Saya juga tidak tau apa namanya ini. Keadaan kah. Takdir kah. Atau apa? Saya tidak tau.
Dan jika kita sangkutkan dengan karma. Teman saya sering mengatakan bahwa karma itu berlaku untuk siapa saja termasuk saya. Baik. Saya tau itu. Lalu? Apa saya akan mendapat karma atas kejadian ini? Harus merasakan apa yang dia rasakan? Dan andaipun jawabannya iya. Insya Allah saya sanggup karna pada dasarnya apapun yang terjadi harus dijalani. Harus dilalui. Dan untuk hal ini saya juga yakin bahwa karma mengerti kenapa saya begini. Saya seperti ini juga untuk menjaga hatinya. Agar tak tersakiti dengan kelakuan saya yang masih belum bisa menempatkannya sebagai seseorang yang lebih dari teman. Dan bila karma tetap akan datang. Yang saya harap hanyalah semoga saya bisa melaluinya.
Oh ya, jika saya belum bisa berubah untuk memperlakukanmu seperti kau memperlakukan saya. Kenapa tidak kau saja yang berubah untuk coba mengurangi rasa yang too much itu? Setidaknya tetap menyayangi saya sebagai sahabat. Saudara. Atau Teman dekat. Bukan terus membuang waktu dan berharap?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar